Shuhufism

Sharing and Caring

Jumat, 16/01/2009

Pimpinan Hamas Ismail Haniyah menyatakan bahwa agresi keji Israel ke Jalur Gaza adalah konspirasi antara rezim Zionis dengan sekutu-sekutunya yaitu AS dan Uni Eropa yang tidak senang atas kemenangan Hamas dalam pemilu di Palestina tahun 2006 lalu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Haniyah dalam surat terbuka yang ditujukan pada masyarakat Barat dan dimuat oleh surat kabar The Independent, Kamis (15/1)

"Meski mereka berusaha keras menyembunyikan konspirasi itu, yang menjadi pendorong perang kriminal Israel ke Jalur Gaza adalah pemilu di Palestina tahun 2006 yang dimenangkan oleh Hamas dengan suara mayoritas," kata Haniyah, perdana menteri Palestina yang dilengserkan secara sepihak oleh Presiden Mahmud Abbas dari faksi Fatah.

"Apa yang terjadi kemudian, Israel bersama AS dan Uni Eropa menggalang kekuatan untuk menggagalkan pilihan demokratis rakyat Palestina. Hal pertama yang mereka lakukan adalah dengan menghalang-halangi formasi pemerintahan nasional bersatu, lalu mereka menciptakan neraka bagi kehidupan rakyat Palestina dengan cara melakukan tekanan ekonomi. Upaya yang mereka itu semua menemui kegagalan yang menyedihkan, dan akhirnya memilih untuk menggelar perang kejam ini," tukas Haniyah.

Haniyah menolak klaim Israel bahwa agresi militernya ke Gaza untuk menghentikan roket-roket Hamas. Menurutnya, rakyat Palestina sudah sangat tahu bahwa Uni Eropa tidak melihat blokade yang dilakukan Israel sebagai bentuk agresi.

"Bukti-bukti sudah banyak, tapi mereka tanpa malu tetap mengatakan bahwa Hamas yang menyebabkan bencana yang menimpa rakyat Palestina karena tidak mau memperpanjang gencatan senjata," tandas Haniyah.

Ia melanjutkan,"Kami ingin bertanya, apakah Israel menghormati gencatan senjata yang dimediasi Mesir bulan Juni lalu? Tidak sama sekali. Karena kesepakatan itu menyebutkan bahwa Israel harus mengakhiri blokade dan menghentikan serangan ke Tepi Barat dan Jalur Gaza."

"Meski kami mematuhi gencatan senjata, Israel tetap melakukan pembunuhan terhadap warga Palestina di Gaza dan di Tepi Barat di tengah berlakunya apa yang kita ketahui sebagai kesepakatan damai Annapolis," tandas Haniyah.

Dalam surat terbukanya, Haniyah mengkritik dunia internasional yang bersikap diam melihat pembantaian yang dilakukan Israel terhadap lebih dari 1.030 rakyat Palestina di Gaza yang berlangsung selama 20 hari. Dunia juga tidak bersuara ketika Israel menggunakan senjata-senjata berbahaya.

"Harus berapa banyak lagi perjanjian dan konvensi yang harus dilanggar Zionis Israel agar mereka bisa dimintai pertanggungjawabannya.Tidak ada negara di dunia sekarang ini, dimana masyarakatnya tidak marah melihat penindasan brutal yang dilakukan Israel," tegas Haniyah.

Surat terbuka yang disampaikan Haniyah pada masyarakat dunia sudah sangat jelas membeberkan kejahatan Israel sebagai pihak yang selalu melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan-kesepakatan damai dengan Palestina. Bahwa Israel lah yang tidak pernah punya niat baik untuk hidup berdampingan dengan Palestina. Bahwa Israel, AS dan Uni Eropa telah menggalang konpirasi yang tidak menginginkan adanya sebuah kekuatan Muslim memuliakan bangsa Palestina.

Bismillahirrahmanir rahim

Ayatullah al-Udzma Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Merupakan suatu kebanggaan bagi saya mewakili pemerintah, bangsa Palestina dan sebagai wakil Gaza yang terluka tapi menang, untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas sikap terbaik, berani dan islami Yang Mulia sebagai bukti ketinggian jiwa Pemimpin Iran Islami dan jiwa besar bangsa Iran.

Pidato dan pesan Yang Mulia sebelum agresi ke Gaza, begitu juga di hari-hari sulit perang Gaza meniupkan semangat kemuliaan, kebebasan, kehormatan dan perlawanan di tengah-tengah rakyat Gaza dan anasir muqawama dalam menghadapi agresi musuh.

Berkat tuntunan bijaksana Yang Mulia, Republik Islam Iran telah memainkan peran aktif di segala bidang yang mungkin dilakukan, khususnya dalam pertemuan Gaza di Doha. Peran aktif Iran sedemikian rupa sehingga menjadi penopang rakyat tanpa penolong dan menciptakan harapan baru di tengah rakyat Palestina.

Republik Islam Iran dengan dukungannya di berbagai bidang sangat membantu resistensi rakyat Palestina. Kemenangan rakyat Gaza di perang terakhir sejatinya kemenangan kedua muqawama Islam setelah perang di Lebanon Selatan. Semoga Allah menganugerahkan kebaikan buat Yang Mulia dan bangsa Iran atas bantuan dan dukungannya.

Bangsa Iran di balik kepemimpinan Yang Mulia benar-benar telah berusaha dan mengambil langkah-langkah demi mendukung rakyat Palestina. Usaha ini menjadi sumber kebanggaan kami dan untuk itu kami mengucapkan terima kasih dan betul-betul menghargai.

Rakyat Palestina, khususnya rakyat Gaza masih tetap membutuhkan dukungan politik maupun selain politik dan dukungan rakyat demi merekonstruksi dan melewati berbagai masalah akibat agresi musuh serta meringankan beban yang dilakukan pihak lain.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, bangsa Palestina membutuhkan satu kehidupan yang bebas dan terhormat tanpa pendudukan dan blokade agar mampu mencapai kekuatan dan kemuliaan hakiki. Demi merealisasikan tujuan ini, bangsa Palestina masih membutuhkan berlanjutnya dukungan Yang Mulia dan bangsa muslim Iran setelah kebaikan dan taufik ilahi dalam menghadapi pemerintah zalim Amerika dan rezim penjahat Zionis.

Akhirnya, terimalah rasa terima kasih dan penghargaan saya dan bangsa Palestina atas perhatian Yang Mulia dan bangsa Iran Islam.

2 Februari 2009
Saudara Anda
Ismail Haniyah
Perdana Menteri Palestina.

Dengan menganalisa sejarah di sepanjang abad yang berbeda-beda, kita melihat peremehan terhadap masalah hak-hak kemanusiaan dan sosial serta kezaliman yang terjadi terhadap wanita. Bahkan sebelum munculnya revolusi Industri di Eropa, wanita belum memiliki hak sosial dan politik yang berarti. Bukan hanya itu, para pemuka agama Kristen di Eropa pun menjustifikasi ketidakadilan terhadap wanita ini dengan alasan-alasan teologis. Namun di abad-abad terakhir, munculah kebangkitan pembelaan hak-hak wanita dan dimulailah era baru.

Kebangkitan-kebangkitan yang muncul akibat dua perang dunia dan kemudian munculah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Pergerakan wanita tersebut lebih di kenal dengan gerakan feminisme.

Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.

Para pemikir Feminis berkeyakinan dunia akan adil jika wanita bangkit untuk mengambil hak-hak mereka. Meskipun mereka mengemukakan argumentasi secara ilmiah, namun sering tejadi kesalahan persepsi yang menyebabkan penyelewengan pemahaman.

Walaupun wanita Islam di jamin oleh argumentasi teologis dan rasional untuk memperoleh hak-hak mereka di berbagai macam bidang kemasyarakatan seperti sosial, politik, budaya dan lain sebagainya, akan tetapi mereka memang dituntut untuk lebih memperhatikan masalah rumah tangga dan keluarga, sehingga seringkali secara alamiah terjadi pembatasan ruang gerak dan aktifitas mereka di ruang publik. Untuk itu para wanita Islam pun mencoba mencari jalan keluarnya.
Permasalahan hak-hak wanita terkadang juga menyebabkan pembenaran di berbagai macam segi tanpa melihat kultur dan agama. Sehingga terkadang banyak dikhawatirkan oleh ulama. Hal yang sering disayangkan adalah penentangan para pembela hak wanita terhadap ulama yang berupaya menempatkan hak-hak wanita dalam lingkup budaya dan etika agama.

Perlu diingat bahwa kehadiran para wanita di berbagai bidang kemasyarakatan menjadi hal penentu, paling tidak pembahasan masalah wanita memiliki tempat bagi seluruh masyarakat. Lebih dari itu, problem ini sudah mendunia bukan masalah yang lokal sifatnya. Salah satu hasil dari revolusi Islam adalah mampu mendobrak pandangan baru tentang wanita, hak-hak dan peranannya dalam masyarakat sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemajuan dalam kemasyarakatan.

Pemikiran dan pandangan mengenai hak-hak wanita lebih tampak ketika revolusi Iran digaungkan dan Imam Khomeini-lah pemimpin yang menjadi pelopor itu semua.

Pada 24 Aban 1357 Hs tahun Iran (1979 M), salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Tasyayyu` (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan?” Imam menjawab, “Tasyayyu` adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad [sawa], begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. Tasyayyu` bukan hanya tidak menolak peranan wanita dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan wanita pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu.”

Imam dalam cuplikan wasiatnya mengatakan penghalang wanita untuk tampil bersumber dari rencana jahat musuh dan teman-teman yang tidak memahami hukum Islam dan Qur`an, dan menambahkan, juga dari cerita-cerita bohong yang di munculkan oleh musuh untuk kepentingannya dan sampai ketangan orang-orang yang bodoh dan sebagian pelajar agama yang tidak mendapatkan informasi tentang itu.


Hak-Hak Kemanusiaan Wanita

Wanita harus memiliki hak-hak kemanusiawian yang sesuai dengan realitasnya. Terkadang hak yang didapat oleh laki-laki tak bisa didapat oleh wanita atau terkadang bisa diraih tapi dalam bentuk yang tidak sempurna atau hanya sebagian saja. Hal ini sama dengan intimidasi hak dan bertentangan dengan kemanusiaan serta hukum Tuhan.

Imam di dalam hal “persamaan” antara pria dan wanita mengatakan: “Islam memiliki pandangan khusus terhadap wanita. Islam pertama muncul di jazirah Arab dimana wanita pada masa itu seperti barang dagangan dan perbedaan status yang sangan jauh dengan lelaki. Akan tetapi Islam datang untuk menghapus itu semua dan Islam datang untuk “menyamakan” mereka dengan laki-laki. Beliau menambahkan juga, “wanita dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya dan kami ingin wanita sampai pada kedudukan yang tinggi dan wanita harus mampu untuk itu.”

Pada wawancara surat kabar Belanda dalam menjawab pertanyaan koresponden: “Apa hak-hak wanita di dalam Negara Islam?” Imam mengatakan: “Dari sisi hak kemanusiaan (sisi insaniahnya) tidak ada beda antara hak lelaki dan wanita, karena dua-duanya adalah manusia dan mereka memiliki hak dalam menentukan masa depannya masing-masing. Dan sebagian hal yang berbeda dari mereka tidak ada hubungan dengan sisi kemanusiaannya. Berusahalah dalam meraih ilmu dan ketakwaan, karena ilmu adalah milik bersama tanpa pengecualian. Sekarang para wanita menjadi partner dalam belajar atau hal lainnya di dalam semua bidang ilmu pengetahuan begitu juga industri.”
Responden: “Apakah wanita bisa sampai pada tahap ijtihad? Dan apa peranan wanita di dalam negara Islam?” Beliau menjawab: “Ada kemungkinan wanita sampai pada tahap ijtihad tapi tidak bisa menjadi marja’ taqlid untuk orang lain. Di dalam aturan Islam wanita memiliki hak yang sama dengan lelaki seperti hak belajar, mengajar, bekerja, kepemilikan, hak memilih, hak dipilih, sehingga di setiap bidang, dimana lelaki memiliki hak untuk itu wanita pun memilikinya. Wanita juga memiliki hak berpolitik dan inilah tugas mereka. Seluruh wanita dan laki-laki harus masuk dalam masalah sosial, politik bahkan harus menjadi pemantau perkembangan politik yang ada, dan tidak hanya itu mereka juga di tuntut untuk menyumbangkan ide-ide mereka. Sekarang wanita harus melaksanakan tugas sosial dan agama mereka dan menjaga kehormatan umum dan di bawah kehormatan tersebut mereka melakukan urusan sosial dan politiknya. Wanita di dalam urusan sosial politiknya harus menjadi partner para lelaki, dengan syarat menjaga hal-hal yang telah di atur dalam Islam.”


Pandangan Imam tentang Karir dan Pekerjaan

“Provokasi jahat sedemikian rupa menyalahartikan kebebasan wanita sehingga mereka menyangka Islam datang hanya memerintahkan wanita diam dirumah saja. Kenapa kita mesti menentang kalau wanita belajar? Kenapa kita mesti menentang kalau wanita bekerja? Apakah wanita tidak mampu melakukan pekerjaan kenegaraan? Seluruh aktifitasnya ada di dalam ikhtiyar mereka, mereka bebas menentukan masa depannya” [1]
Menjadi jelaslah bahwa Islam menempatkan wanita dalam kedudukan yang tinggi sama dengan laki-laki. Dari sisi insaniahnya wanita dan laki-laki adalah sama, tidak ada penghalang dikarenakan perbedaannya dalam meraih kedudukan yang tinggi disi Allah. Di dalam Islam kita telah mengenal Sayidah Fathimah [as] (putri Rasulullah) yang membela dan mendampingi perjuangan Ayahnya, Sayydah Maryam [as] yang dengan kelembutannya menjaga sang kekasih Allah, Isa al-Masih, juga Sayidah Asiah (istri Fira`un) yang dengan kesabarannya bisa terjaga dari pengaruh buruk Fira`un.

Catatan Kaki:
[1] Ucapan-ucapan Imam Khomaini diambil dari Majalah Payam Khonewodeh No: 52 hal. 14 Urdibhest 1384 Hs.

Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyarankan agar negara-negara Muslim menjadikan Imam Ali ibn Abi Thalib sebagai teladan dalam menegakkan suatu pemerintahan berbasis keadilan dan demokrasi.

Salah satu lembaga PBB yang mengurusi masalah perkembangan negara-negara di dunia (UNDP) dalam laporannya pada tahun 2002 bertajuk “Arab Human Development Report” --yang dipublikasikan di seluruh dunia-- mengutip enam ucapan Imam Ali ibn Abi Thalib tentang pemerintahan ideal.

UNDP mengatakan bahwa sebagian besar negara-negara di kawasan (Arab) itu masih jauh di bawah bangsa-bangsa lain dalam bidang demokrasi, perwakilan politik luas, partisipasi perempuan, pembangunan, dan pengetahuan.

Berikut ini ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib yang dikutip UNDP tersebut:

1..Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.
2..Perhatianmu terhadap pengembangan negeri semestinya lebih besar ketimbang perhatianmu terhadap pengumpulan pajak, karena yang kedua ini hanya bisa diperoleh dengan pengembangan. Karena mencari pendapatan tanpa pengembangan berarti menghancurkan negeri dan bangsa.
3..Carilah pertemanan dengan orang-orang yang berilmu dan arif serta orang-orang takwa di antara rakyatmu, dalam mencari solusi atas masalah negerimu.
4..Tidak ada kebaikan apapun dengan berdiam diri dalam masalah pemerintahan atau dalam membicarakan kebodohan.
5..Orang yang takwa adalah yang melakukan kebajikan, yang logikanya lurus, yang busananya bersahaja, yang jalannya sederhana, yang banyak amalnya, dan tidak terguncang karena kesulitan.
6..Pilihlah yang terbaik di antara orang-orangmu untuk menegakkan keadilan. Pilihlah orang yang tidak mudah menyerah, yang tenang meski menghadapi kesulitan, orang yang tidak akan terus menerus melakukan perbuatan salah, yang tidak akan berhenti mengejar hak ketika ia mengetahuinya, orang yang hatinya tidak mengenal kerakusan, yang tidak akan terpuaskan dengan sedikitnya penjelasan tanpa mencari pengetahuan yang maksimal, yang paling tabah ketika keraguan datang mencecar, yang kejemuannya sedikit dalam mengoreksi para penentang, yang paling tabah dalam menuntut kebenaran, yang paling ketat dalam memenuhi keputusan, orang yang tidak terbuai oleh bujuk rayu dan tidak terjerat oleh godaan. Sesungguhnya orang-orang seperti ini amatlah sedikit.

Pada akhir tahun 70-an dunia diguncangkan oleh sebuah revolusi yang digerakkan oleh seorang ulama. Republik Iran yang begitu kuat di bawah kepemimpinan Syah akhirnya harus tumbang melalui perjuangan panjang ulama tersebut. Ulama itu, tak lain adalah Imam Khomeini, seorang sufi, teolog, faqih, filosof dan sekaligus politikus. Seorang pribadi besar, yang kokoh dalam pendirian dan keteguhan perjuangan menegakkan amar ma`ruf nahi munkar tanpa mengenal putus asa.

Imam Khomeini [ra] lahir di Khomein pada 24 Oktober 1902. Khomein, merupakan dusun yang berada di Iran tengah. Keluarga Khomeini adalah keluarga Sayid Musawi, keturunan Nabi [sawa] melalui jalur Imam ke-7 (tujuh) Syi`ah, Imam Musa al-Kazhim [as]. Mereka berasal dari Neisyabur, Iran timur laut. Pada awal abad ke-18, keluarga ini bermigrasi ke India, dan mukim di kota kecil Kintur di dekat Lucknow di kerajaan Qudh, yang penguasanya adalah pengikut Syi`ah Dua Belas Imam. Kakek Imam Khomeini [ra] yang bernama Sayid Ahmad Musawi Hindi, lahir di Kintur. Keluarga kakeknya adalah keluarga ulama terkemuka, Mir Hamed Husein Hindi Neisyaburi, yang karyanya, Abaqat al-Anwar, jadi kebanggan Syi`ah India.

Sayid Ahmad ini meninggalkan India pada sekitar tahun 1830 untuk pergi ziarah ke kota suci Najaf. Di Najaf dia bertemu seorang saudagar terkemuka Khomein. Menerima undangan sang saudagar, Sayid Ahmad lalu pergi ke Khomein untuk jadi pembimbing spiritual dusun itu. Di Khomein, Sayid Ahmad menikah dengan Sakinah, putri tuan rumahnya. Pasangan ini dikaruniai empat anak, antara lain Sayid Mustafa, yang lahir pada 1856. Sayid Mustafa belajar di Najaf, di bawah bimbingan Mirza Hasan Syirazi, kemudian pada 1894 kembali ke Khomein. Di sana dia menjadi ulama dan dikaruniai enam anak. Imam Khomeini [ra] adalah yang bungsu dan satu-satunya yang panggilannya adalah Khomeini.

Semasa kecil, Imam Khomeini [ra] mulai belajar bahasa Arab, syair Persia dan kaligrafi di sekolah negeri dan di ‘maktab’. Menjelang dewasa, Imam Khomeini [ra] mulai belajar agama dengan lebih serius. Ketika berusia lima belas tahun, dia mulai belajar tata bahasa Arab kepada saudaranya, Murtaza, yang belajar bahasa Arab dan teologi di Isfahan. Pada usia tujuh belas tahun Imam Khomeini [ra] pergi ke Arak, kota dekat Isfahan untuk belajar dari Syaikh Abdul Karim Ha`eri Yazdi, seorang ulama yang terkemuka yang meninggalkan Karbala untuk menghindari pergolakan politik. Sikap ini kemudian mendorong kebanyakan ulama terkemuka untuk menyatakan penentangannya kepada pemerintahan Inggris.

Setelah runtuhnya imperium Utsmaniah, Syaikh Ha`eri enggan tinggal di kota-kota yang ada di bawah mandat Inggris. Ia kemudian pindah ke Qum. Imam Khomeini [ra] lima bulan kemudian mengikuti jejak Syaikh Ha`eri pindah ke Qum. Di tempat yang baru ini Imam Khomeini [ra] belajar retorika syair dan tata bahasa dari gurunya yang bernama Syaikh Muhammad Reza Masjed Syahi.

Selama belajar di Qum, Imam Khomeini [ra] menyelesaikan studi fiqh dan ushul dengan seorang guru dari Kasyan, yang sebelas tahun lebih tua darinya, yaitu Ayatullah Ali Yasrebi.

Pada awal tahun 1930-an, dia menjadi mujtahid dan menerima ijazah untuk menyampaikan hadis dari empat guru terkemuka. Yang pertama dari ke-4 guru itu adalah Syaikh Muhsin Amin `Ameli, seorang ulama terkemuka dari Libanon, dimana Imam Musa Shadr di kemudian hari menggantikan kedudukan Amin sebagai pemimpin Syi`ah Lebanon.

Yang kedua adalah Syaikh Abbas Qumi, ahli hadis terkemuka dan sejarawan Syi`ah. Qumi adalah penulis prolifik yang tulisannya sangat digemari di Iran modern, terutama bukunya yang berjudul Mafatih al-Jinan (Kunci Surga).

Guru ketiganya adalah Abul Qasim Dehkordi Isfahani, seorang mullah terkemuka di Isfahan.

Guru keempatnya adalah Muhammad Reza Masjed Syahi, yang datang ke Qum pada 1925 karena protes menentang kebijakan anti Islam Reza Syah.

Pada usia dua puluh tujuh tahun, Imam Khomeini [ra] menikah dengan Syarifah Batul, putri dari seorang ayatullah yang bermukim di Teheran. Mereka dikarunia lima orang anak, dua putera dan tiga puteri.

Imam Khomeini [ra] wafat pada tanggal 3 Juni 1989 dengan memberikan sesuatu keyakinan kepada kaum Muslimin diseluruh dunia bahwa ajaran Islam merupakan ajaran yang mampu menuntun manusia pada kebenaran. Memang peranan dan kharismanya dalam Islam modern dan sejarah Iran tak dapat disangkal. Semoga harapan dan cita-citanya dapat menjadi kenyataan dalam sejarah umat Islam di dunia.